Nadir


Bolehkah kita mengulang masa masa indah itu
Ku tak mengerti apa yang terjadi hingga berakhir
Bagaimana kah kabarmu berhasilkah lupakanku?

Diriku yang bodoh ini masih mendamba hadirmu
Waktu kau sedih ku disini
Waktu kau senang kau dimana?
Sebelum dirimu pergi dan janjimu hilang arti
Lihatlah perjuanganku
Namun jika memang harus berakhir sampai disini
Biar ku berharap dengan hati yang keras kepala
Aku rindu kau yang dulu
Dan obrolan kecil kita
Kini bagai dua orang asing tidak saling tanya

Advertisements

Jarak

Akan ku ceritakan betapa terbisik pilu diantara besawiah

Ceritakanlah betapa kau menginginkanku menggenggam tangan mu hari ini di kejauhan

Dan akan aku ceritakan betapa kau sudah menggenggam hatiku sejak dulu.

Ada tujuh milyar manusia di bumi ini

Kadang aku berpikir

Kenapa tuhan memilih hatiku untuk tetap ditempatkan disebelahmu

Yang kini tak bisa ku lihat sewaktu waktu.

Ahh… tapi tenang saja

Toh.. kita tidak hidup di zaman medieval

Diamana kerinduan mesti diretas oleh surat yang harus menyebrangi lautan

Kerinduan kita hanya perlu ditanggulangi oleh jempol yang mengetik dilayar ponsel

Kita saling menyemangati ketika pagi datang

Dan saling mendoakan ketika malam tiba

Itu sudah lebih dari cukup.

Mungkin kau dan aku bukan ditakdirkan untuk jatuh cinta

Hanya untuk bejalan di dalamnya

Menikmati waktu menghambat

Hingga tuhan mempertemukan lagi kau dan aku.

Maka berhentilah mengutuk soal kenapa kita berdua hidup ditempat berbeda yang begitu jauh

Dan mulailah mensyukuri betapa kelak perjumpaan kita akan indah adanya.

Tenang, aku berusaha menjaga janji yang kita berdua pernah ukir

Aku harap kau pun begitu

Satu satunya hal yang kubenci hanyalah fakta bahwa aku tidak bisa menjagamu

Tapi aku yakin tuhan tidak pernah tidak melindungi mu.

Teruntuk mu seseorang dikejauhan tak usah khawatir

Jarak terjauh kita adalah waktu

Tabungan terindah kita adalah rindu

Langkah ini akan tertuju padamu

Hingga saat itu tiba

Hingga aku untuk jadi milik mu

Baca

Coretan pertama

Saat membaca buku , saat itu pula kita sedang menemani penulisnya dalam kondisi paling jernih yang dimilikinya. Pada saat itu, akal mereka tengah berada pada level kesiapan,kebeningan, dan kejernihan yang paling tinggi. Dia akan berbicara kepada kita melalui untaian kata yang ditulis dengan kemampuan berpikir dan bertutur yang dimilikinya

Nelangsa

Kumainkan rekaman perihal kita

Lagi dan lagi

Di kepala yang hampir pecah.

Kau ingat saat kita saling tersenyum lalu berkenalan?

Kau ingat saat kita duduk ditepian senja?

Kau ingat saat kita saling menggenggam tangan seakan tidak mau saling melepas?

Kau ingat saat kita saling mengkhawatirkan?

Kau ingat saat kita dipisahkan jarak?

Kau ingat saat kita mencoba untuk bertahan?

Tiada tau kapan bisa saling menatap

Kau ingat saat kita saling mengingatkan untuk satu sama lain?

Kau ingat saat kita hilang menjadi jarang berbincang?

Pernahkan ingatan menusuk hatimu bertubi tubi?

Pernahkah rasa bersalah mengejek dan menertawakan mu?

Mati matian kau tutup telinga

Namun suara suara itu semakin kuat berteriak

Aku pernah, bahkan sering

Setiap hari setelah kejadian itu.

Bagaimana jika kesalahanmu bermula dari kesalahanku

Bagaimana jika ketertutupan mu bermula dari ketertutupan ku

Ketika tangan tak diciptakan berpasangan

Kita dihadapkan pada pahitnya pilihan

Adakah rasa yang diciptakan menjadi dosa

Bukankah sudah kuselipkan namamu dalam doa

Purnama enggan menjawab

Sementara mentari bergerak laksana keong semenjak kita tidak lagi saling menyapa

Terlalu lambat hari hariku berganti

Dan walau siang bertukar peran dengan malam

Namun perguliran tak pernah jadi hari baru untuk ku

Semua hanya repetisi yang terjadi terus menerus

Tak tau kemana lagi jiwa ini harus menggapai.

Ketika kesetiaan menjadi barang mahal

Ketika kata maaf menjadi sulit untuk terucap

Ego siapa yang sedang kita beri makan?

Entah

Aku hanya ingin menikmati mimpi mimpi kita yang hancur berantakan

Duduk di tepi bumi dan bersedu sedan

Perbolehkan aku menjadi manusia biasa yang berhak rapuh ketika keadaan menjadi berat.

Ahh,.. tidak apa apa

Aku hanya butuh waktu sendiri

Bukan untuk dinasehati

Aku tidak senaif itu

Aku marah bukan berarti tak peduli

Aku diam bukan berarti tak memperhatikan

Dan aku hilang bukan berarti tak ingin di cari

Kita

Saat kaki kita melebur

Mentari menyingsing di ufuk timur

Tangan kita berpegangan

Bahasa terindah kita adalah keheningan

Huruf terindah kita adalah kerinduan

Kata kata terindah kita adalah kau dan aku saling mendoakan

Kita tidak mampu mendefinisikan apa yang kita rasa

Kita berdua hanya tau

Bahwa ini indah, walau tak bernama.

 

 

Setelah malam demi malam

Kau menahan perih peninggalan masa lampau

Setelah minggu demi minggu

Kau mencoba untuk tidak lagi jatuh hati

Setelah purnama demi purnama

Aku jua tak pernah henti menanti.

 

 

Kita memutuskan untuk mencoba

Seberat apapun hidup

Seberat apapun perbedaan

Kita memutuskan untuk mencoba.

 

 

Jatuh cinta memang tak pernah direncanakan

Tapi membina sebuah komitmen butuh perencanaan

Mabuk kepayang itu mudah

Kau hanya perlu mereguk suka cita sebanyak banyaknya

Yang sulit itu..

Menhadapi resiko terjaga dari mabuk tanpa ada siapapun disebelah mu

Jatuh cinta itu mudah

Kau hanya perlu terpana asamara

Lalu jatuh

Yang sulit itu menhadapi resiko berdiri sendirian dengan hati yang terluka

Kasmaran itu mudah

Kau hanya perlu senyum senyum sendiri setiap akan berangkat tidur

Yang sulit itu..

Menhadapi resiko terbangun dari hati yang patah tanpa ada yang mampu merekatkannya kembali.

 

 

Kenapa aku mau menghadapi semua resiko itu?

Karena duduk disebelahmu sambil memandang matamu

Merasakan jantungku ingin meledak

Lalu melihat senyumu menghentikan duniaku

Resiko apapun jadi tak berarti untuk di tempuh

Bersamamu, kesulitan kesulitan tersebut menjadi tiada.

 

 

Kau bertanya

Mengapa harus engkau?

Aku tidak pernah punya jawabanya

Aku rasa kita tidak bisa memilih siapa yang kita taruh dalam hati kita

Kau pernah meragu

Apa hebatnya dirimu?

Aku tak perlu menjawab itu.

Lihat saja bagaimana kau selalu mampu membuatku tersenyum

Seburuk apapun hari yang aku lalui.

 

 

Dibelakangmu ada rasa sakit

Didepanmu ada kisah baru

Disebelahmu ada aku yang takan pernah pergi

Kau hanya perlu mengubah caramu melihat.

Susah dan senang

Jatuh dan bangun

Gembira dan terluka

Aku bersamamu,

Aku bersamamu untuk menuntun

Bukan menuntut

Menggandeng, bukan menarik paksa

Mempercayai, bukan mencurigai

Membahagiakan, bukan membahayakan

Jadi jangan menyerah, jangan hari ini